Selamat datang di website resmi Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Bangil

Wednesday, March 10, 2010


BAB  I
GAMBARAN KEADAAN

A. MASALAH KEMANAN DAN KETERTIBAN.
     Keamanan dan ketertiban merukapan syarat mutlak untuk terlaksananya kegiatan pembinaan, suasana aman dan tertib perlu diwujutkan. Itu tergantung dari system yang berlaku. Menurut UU No. 12 Tahun 1995 sistem pemasyarakatan adalah “ Suatu tatanan mengenai batas serta cara pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara Pembina yang dibina dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas warga binaan “.
     Petugas pemasyarakatan perlu memahami tugas pokok keamanan dan ketertiban. Menurut buku pola pembinaan narapidana / tahanan, tugas pokok bagi petugas pengamanan adalah :
1.      Keamanan dan ketertiban memantau dan mencegah sedini mungkin gangguan keamanan baik dari dalam maupun luar Rutan  atau Lapas.
2.      Keamanan dan ketertiban mencegah agar situasi kehidupan penghuni tidak mencekam agar tidak terjadi penindasan dan lain-lain.
3.      Memelihara, mengawasi dan menjaga agar suasana kehidupan penghuni baik dalam bekerja, belajar, beribadah dan menerima kunjungan selalu tertib dan harmonis.
     Oleh karena itu petugas perlu memiliki tanggung jawab bersama, bukan hanya petugas pengamanan saja, akan tetapi secara bersama mampu menjaga dan memelihara kondisi Rutan atau Lapas yang aman dan tertib.
      Beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi keamanan dan ketertiban antara lain :
1.      Warga binaan pemasyarakatan.
Faktor binaan pemasyarakatan salah satu unsur penting dalam mewujutkan situasi keamanan dan ketertiban yang aman dan tertib. Jumlah penghuni yang over kapasitas akan mempengaruhi terjadinya gangguan keamanan, selain itu variasi penghuni antara kasus criminal dan kasus narkoba dalam penempatan kamar hunian harus dipisahkan.
2.      Petugas pemasyarakatan.
Sumber daya petugas pemasyarakatan masih relatif minim, dan dari petugas tersebut harus bisa mempunyai peranan yang mencakup : mampu menjembatani kepentingan atau kebutuhan warga binaan pemasyarakatan dalam arti yang positif, mampu menggali bakat dan minat untuk dikembangkan dan mampu mengendalikan perilaku yang kurang baik menjadi baik dengan demikian peranan petugas cukup dominant selain sebagai Pembina dan juga sebagai pengamanan. Sehingga keadaan Rutan atau Lapas dapat mewujudkan kondisi keadaan yang aman, tertib dan terkendali.


3.      Keluarga ( Masyarakat ).
Salah satu faktor yang mempengaruhi psikologi warga binaan pemasyarakatan yaitu kurangnya hubungan yang baik antara narapidana dengan keluarganya atau masyarakat, dimana keluarga warga binaan pemasyarakatan tidak peduli lagi jika salah satu anggota keluarganya ada di Rutan atau Lapas ( jarang dikunjungi ). Begitu juga hubungan dengan masyarakat luar, kadang kala keluarga korban masih ada perasaan dendam sehingga warga binaan pemasyarakatan mau kembali kekeluarganya masih ragu dan takut dan sebagainya.

A.     Masalah Keberhasilan Pembinaan.
                    Keberhasilan program pembinaan terletak pada pola yang dipakai selama ini, menurut ketentuan pasal 5 UU No. 12 tahun 1995 pembinaan narapidana, yaitu menganut asas :
1.      Asas Pengayoman
2.      Asas Persamaan Perlakuan dan Pelayanan
3.      Asas Pendidikan
4.      Asas Pembimbingan
5.      Asas Penghormatan, Harkat dan Martabat Manusia
6.      Asas Kehilangan Kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan
7.      Asas Terjaminnya Hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang- orang tertentu.

Disamping asas pembinaan tersebut, proses pembinaan memerlukan tahapan- tahapan sebagai berikut :
1.      Tahap Awal meliputi : masa pengamat, pengenalan dan penelitian lingkungan yang dilaksanakan paling lama satu bulan.
2.      Tahap lanjutan meliputi : perencanaan program pembinaan lanjutan, pelaksanaan program pembinaan lanjutan, penelitian pelaksanaan dan pelaksanaan program asimilasi.
3.      Tahap akhir meliputi : perencanaan pintegrasi, pelaksanaan program integrasi dan pengakhiran pembinaan tahap akhir.
Berikut factor yang mmpengaruhi pelaksanaan pembinaan dalam kondisi yang aman dan tertib dapat terwujud apabila :
1.      Pola dan tata letak bangunan.
Pola dan tata letak bangunan merupakan faktor yang utama atau penting  karena keberhasilan suatu pembinaan terhadap narapidana tanpa didukung adanya bangunan atau tempat yang memadai tidak akan berhasil.
2.      Struktur Organisasi.
Mekanisme kerja khususnya hubungan dan jalur-jalur perintah atau komando dan staf hendaknya mampu dilaksanakan secara budaya guna agar pelaksanaan tugas disetiap unit kerja berjalan baik dan lancer.
3.      Kepemimpinan Kepala UPT.
Kepala Unit Pelaksana Teknis ( Karutan / Kalapas ) akan menjadi faktor pendukung apabila kepemimpinannya mampu mendorong motifasi kerja, disiplin, tanggung jawab untuk bekerja sama sehingga ada gairah dalam bekerja.
4.      Kualitas dan kuantitas petugas.
Jumlah petugas dan mutu petugas hendaknya dapat teratasi, sebab dengan adanya kualitas dan kuantitas petugas akan terwujud dalam membina dan mendidik narapidana.
5.      Manajemen.
Hal ini berkaitan dengan mutu kepemimpinan, struktur organisasi, kemampuan pengelolaan administrasi.
6.      Kesejahteraan petugas.
Faktor kesejahteraan petugas pemasyarakatan masih relatif rendah, dalam hal ini tidak mengurangi lemahnya pembinaan serta keamanan dan ketertiban dilingkungan Rumah Tahanan Negara atau di Lembaga Pemasyarakatan.
7.      Sarana atau fasilitas pembinaan.
Kurangnya sarana dan prasarana atau fasilitas dapat menjadi penghambat, maka perlu dioptimalkan pendaya gunaan fasilitas saran dan prasarana tersebut.
8.      Anggaran atau Dana.
Hendaknya memanfaatkan anggaran yang tersedia secara efektif dan efesien.


BAB  II
ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

A. Analisis Masalah.
                    Melihat dan mengamati kondisi keamanan dan ketertiban yang ada saat ini, telah penulis uraikan pada bab I, disamping itu masih banyak masalah lain yang dapat menggangu keamanan  dan ketertiban didalam Rutan atau Lapas antara lain :
1.      Pencurian, pemerasan dan pengancaman.
2.      Perkelahian antar penghuni
3.      Pemberontakan dan perlawanan terhadap petugas
4.      Kebakaran dll.
Masalah tersebut dapat ditekan atau diantisipasi dengan kerja sama, baik antar sesama penghuni warga binaan, antar petugas pemasyarakatan dengan penghuni dan bahkan antar sesama pegawai petugas pemasyarakatan.
              Sedangkan masalah pokok yang berkaitan dengan peranan keamanan dan ketertiban dalam menunjang keberhasilan pembinaan narapidana yang selama ini masih dianggap kurang diperhatikan dan perlu adanya penyelesaian antara lain :
1.      Masalah koordinasi yang kurang baik.
Masalah ini mudah diucapkan tetapi agak susah dilaksanakan, dimana antara petugas penjagaan dengan  pembinaan warga binaan dalam melaksanakan suatu kegiatan kurang koordinasi sehingga hasil pembinaan yang diharapkan kurang maksimal.
2.      Sumber daya yang relatif rendah.
Masalah sumber daya manusia tidak asing lagi karena petugas pemasyarakatan dalam realitanya kurang mampu menggerakan,mengawasi dan melaksanakan pembinaan warga binaan dengan baik, oleh karena itu sumber daya petugas pemasyarakatan perlu ditingkatkan melalui diklat dan seminar.
3.      Pendanaan dan sarana yang relative minim.
Untuk berlangsungnya suatu pembinaan dan pengamanan diperlukan dana dan sarana yang cukup memadai. Dana yang digunakan untuk kelancaran kegiatan pembinaan tetapi dalam realitanya masih menjadi kendala utama, begitu juga sarana penunjang masih belum ada, kalaupun ada masih belum dimanfaatkan dengan maksimal.

Masalah-masalah tersebut diatas merupakan masalah pokok yang perlu dicarikan alternatif pemecahan masalahnya. Masalah ini berlangsung sudah cukup lama dan sampai sekarang belum ada penyelesaiannya dengan serius.





B.     Alternatif Pemecahan Masalah.
                    Dari masalah-masalah yang pokok tersebut diatas maka penulis
      menyampaikan alternatif pemecahan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.     Masalah koordinasi yang kurang baik, alternatif pemecahannya adalah :
a.      Tanggung jawab keamanan dan ketertiban berada ditangan Karutan atau Kalapas, sehingga perlu ada satu komando yang jelas dan tegas jangan sampai ada kesan memihak –mihak dan berat sebelah
b.      Menumbuhkan kesadaran petugas pemasyarakatan dengan memberikan buku-buku panduan  PPLP dan Protap bagi seluruh petugas.
c.      Mengadakan rapat dinas secara berkala atau brifing dengan seluruh pegawai petugas pemasyarakatan.

2.     Masalah sumber daya manusia, alternatif pemecahannya adalah :
a.      Seluruh petugas pemasyarakatan perlu diikut sertakan dalam pendidikan dan pelatihan atau diklat yang sesuai dengan bidang tugasnya.
b.      Memberikan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan atau kuliah diperguruan tinggi bagi petugas pemasyarakatan yang mau dan mampu.
3.     Masalah pendanaan dan sarana, alternatif pemecahannya adalah :
a.      Mencarikan donatur dari pihak ketiga atau bekerja sama dengan pihak luar / perusahaan untuk memberikan ketrampilan dan menggunakan / membutuhkan tenaga warga binaan untuk bekerja dengan melalui perjanjian yang jelas.
b.      Membuka usaha dengan modal dari pihak kepedulian pegawai sendiri.
c.      Menjalin kerja sama dengan pihak terkait untuk memberikan pelatihan ketrampilan seperti dengan kantor Disnaker atau Balai Latihan Kerja dll
Demikian analisis dan pemecahan masalah dan semua itu tidak terlepas dari kebijakan pimpinan Karutan atau Kalapas yang berpengaruh dalam mewujudkan keamanan, ketertiban dan pelaksanaan pembinaan yang berhasil guna serta didukung oleh seluruh petugas pemasyarakatan.

           










BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan.
                 Sebagai kesimpulan karya tulis ini maka penulis  akan menguraikan  
      sebagai berikut :
1.      Pada dasarnya situasi keamanan dan ketertiban yang aman dan terkendali akan berpengaruh pada proses pembinaan warga binaan dalam Rutan atau lapas dan tujuan pembinaan akan tercapai dengan maksimal.
2.      Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi keamanan dan ketertiban di Rutan atau lapas dapat stabil antara lain :
a.      Kerja sama yang baik antara petugas pemasyarakatan dan penghuni warga binaan (pendekatan persuasif ).
b.       Adanya kegiatan program yang bersinambungan.
c.Adanya dana, sarana dan prasarana yang ,emadai.
d.      Adanya kerja sama dengan pihak luar atau instansi yang terjalin dengan baik.
e.      Sumber daya manusia yang memiliki professional, integritas moral yang tinggi.
3.      Pada dasarnya peranan keamanan dan ketertiban dalam menunjang keberhasilan pembinaan adalah dapat  mendukung kelancaran suatu kegiatan sehingga pembinaan berhasil dengan baik.
4.      Kebijakan pimpinan ( Karutan atau kalapas ) akan menentukan arah dan tujuan yang diharapkan dan didukung oleh seluruh jajaran petugas pemasyarakatan yang professional serta tidak kalah penting adalah partisipasi positif para warga binaan pemasyarakatan yang aktif dan produktif.
                    Melalui karya tulis ini dapat penulis sampaikan saran  yang perlu diperhatikan sebagai petugas pemasyarakatan :
1.      Perlu adanya peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan  atau diklat teknis pemasyarakatan yang profesional
2.      Diupayakan kesejahteraan           petugas pemasyarakatan perlu di perhatikan.
3.      Membina hubungan kerja sama yang baik antara petugas pemasyarakatan dengan warga binaan serta masyarakat.
           
           

 




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share:

0 comments:

Post a Comment

Copyright © Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Bangil | Powered by Namecheap Design by Aditya Pradana | Website Theme by Blogger