Selamat datang di website resmi Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Bangil

Saturday, January 21, 2017

Sempat Diteror Akan Dibunuh Bandar Narkoba

Foto : Wahyu Indarto, Kepala Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Bangil

WAKTU menunjukkan pukul 09.00. Pagi itu, halaman Rutan Bangil sudah disesaki kendaraan para pembesuk  tahanan. Mereka mengantre untuk masuk ke dalam rutan. Dengan cekatan, petugas pun mengecek kartu  identitas dan barang bawaan.
Satu  persatu kartu identitas pembesuk “ditahan”. Mereka boleh mengambil  identitas itu kembali, setelah selesai membesuk. “Kami terapkan peraturan baru ini, untuk mengantisipasi kebobolan. Kami tak menginginkan kasus di Rutan Salemba terjadi di Rutan Bangil ini. Ketika itu, ada warga binaan yang menyamar jadi perempuan, keluar rutan dengan berpura-pura menjadi penjenguk,” ungkap Wahyu Indarto, kepala Rutan Bangil Kelas IIB mengawali pembicaraan.
Ya, aturan itulah yang tengah dikeluarkannya beberapa hari terakhir usai  menjabat Kepala Rutan Bangil yang  baru. Aturan itu diberlakukannya, untuk   mengantisipasi kaburnya warga binaan  dengan melakukan penyamaran.
Dengan menitipkan KTP ke petugas, tentunya akan mempermudah pengecekan terhadap pengunjung yang hendak keluar. Sehingga, upaya penyamaran yang dilakukan warga binaan pun, bisa gagal.  “Kami akan meneruskan hal- hal yang baik yang sudah dijalankan pejabat sebelumnya. Seperti kegiatan pemberian taushiyah kepada warga binaan, yang akan kami pertahankan.  Bahkan, kalau perlu ditingkatkan.  Sementara yang perlu pembenahan, ya kami akan lakukan,”  jelas Wahyu-sapaannya.
Wahyu Indarto menggantikan Tri Wahyudi yang dimutasi ke Lapas Klas IIB Dompu, NTB. Ia resmi menempati posisi Karutan  Bangil, sejak sertijab dilakukan 10 Januari 2017. Saat Jawa Pos  Radar Bromo berkunjung ke  kantornya kemarin (20/1), Wahyu terlihat tengah bersantai.
Lelaki 37 tahun ini, dengan ramah  menceritakan perjalanan karirnya hingga menjabat Karutan  Bangil saat ini. Kisah perjalanannya menjadi  Karutan Bangil, bermula dari kegagalannya tembus Akabri tahun 1998 silam.
Ia yang bercita-cita menjadi tentara, mendaftarkan diri ke Akabri usai lulus SMA 4 Surabaya. Namun, usahanya untuk menjadi tentara buyar. Ia dinyatakan  tak lulus oleh tim seleksi Akabri.  Rasa kecewa pun berkecamuk   di dalam benaknya.
“Untungnya, ada orang tua yang selalu mensupport saya. Mereka menyarankan agar saya masuk Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKPI) di Cinere,” jelasnya.  Masa pendidikan di AKIP di jalaninya selama kurang lebih  tiga tahun.
Masuk AKIP pun tak  mudah. Karena ia harus bersaing dengan 500-an pendaftar yang lain. Padahal, kuota yang diberikan hanya untuk 60 siswa.  Syukur, ia dinyataka lolos seleksi  dan diterima. Ia pun lulus AKIP sekitar tahun 2001.
 “Begitu lulus, saya magang di  Lapas Klas I Cipinang sampai 2003,” kisah suami dari Adelia Asrie Pratiwi tersebut. Lalu, Wahyu ditempatkan sebagai staf di  Rutan Klas 1 Surabaya, sejak tahun 2003. Cukup lama di Rutan Surabaya, hingga ia pun dipercaya menjabat Kasubsi Administrasi dan Perawatan Rutan Medaeng tahun 2009.
Selama kurang lebih empat  tahun, ia pun diamanahi jabatan  baru sebagai Kepala Satuan  Pengamanan di Lapas Wirogunan  atau yang lebih dikenal Lapas IIA Jogjakarta. Jabatan Kepala Satuan Pengamanan di Lapas  Wirogunan itu, dijabatnya sejak   2013 hingga 2015. Karena pada 2015, ia dilantik sebagai Kepala  Satuan Pengamanan di Lapas  Klas IIa Narkotika Jakarta.
“Baru tanggal 22 Desember  2016 kemarin, saya dilantik sebagai Kepala Rutan Bangil. Dan,  tanggal 10 Januari 2017, sertijab dilakukan,” sambung ayah dari  Felisa Angel Putri Indarto dan  Anrow Kusumo Putra Indarto tersebut.
Selama berpindah-pindah posisi itu, sudah banyak pengalaman yang didapatkannya. Tak hanya pengalaman yang menyenangkan  karena bersentuhan dengan orang- orang banyak kasus. Banyak pula pengalaman tak menyenangkan didapatinya. Namun, semua itu sangat berkesan baginya hingga sekarang.
Seperti halnya ketika ia menjabat Kasubsi Administrasi dan Perawatan Rutan Medaeng. Ketika itu, ia bertugas mengawal  terpidana mati kasus pembunuhan Sumarsih, dari kamar tahanan ke mobil Brimob. Suasana waktu itu terasa hening.
Kontras dengan kondisi biasanya, yang cukup ramai di rutan setempat. Bukan hanya itu, kondisi tak  biasa juga terasa dari aroma yang tercium di sekitaran rutan. Mendadak, ia dan pegawai rutan yang  lain, mencium bau bunga kamboja.
“Yang lebih aneh lagi, terdengar suara burung gagak. Padahal, tidak ada burung gagak di  sekitar rutan,” katanya heran. Pengalaman tak terlupakan lainnya, yakni melihat ketegaran Mary Jane, warga Filipina yang  lolos dari hukuman mati.
Narapidana kasus narkoba itu merasa tegar meski akan dieksekusi mati. Tidak ada rasa sedih,  bahkan saat pengambilannya dari Lapas Wirogunan. “Kebetulan waktu itu saya menjabat Kepala Satuan Pengamanan di Lapas Wirogunan. Sehingga, kerap  bertemu dan komunikasi dengan Mary Jane. Tapi, ia tampak tegar. Itu  yang membuat saya terkesan,” ce rita pehobi tenis tersebut.
Yang juga tak terlupakan, saat  ia masih menjabat Kasubsi Administrasi Perawatan di Rutan  Medaeng. Ia mendapat teror akan dibunuh, oleh mantan narapidana yang juga merupakan gembong narkoba. Alasannya, ia  melakukan pemindahan narapidana bandar-bandar narkoba  di Rutan Medaeng tersebut, ke lapas-lapas yang lain.
“Saya mencurigai adanya peredaran narkoba yang terjadi di dalam Rutan Medaeng. Makanya, saya pindahkan bandar-bandar  narkoba yang ada di Medaeng.  Rupaya, itu membuat geram bandar besarnya. Hingga mengancam akan mengarungkan saya atau membunuh saya. Tapi, saya bukannya takut dan justru malah merasa tertantang,” kenangnya.
Beberapa pengalaman itulah, menjadi penggalan cerita yang tak terlupakan bagi Wahyu. Di  samping masih ada seabrek kisah lainnya, tentang suasana yang  ada di rutan ataupun lapas. Termasuk cerita aksi tawuran warga  binaan yang ada di lapas.
Hal itu terus menjadi pembelajaran baginya, untuk bisa lebih  mendekati dan memahami ke butuhan para narapidana. Sehingga, hal-hal yang tak diinginkan seperti tawuran antar napi tersebut, tidak sampai terjadi di Rutan Bangil.
“Dulu waktu di Lapas Narkotika, bisa sebulan dua kali bahkan tiga kali, kasus perkelahian antarwarga binaan. Namun, disini sepertinya tidak ada. Makanya, hal yang berpotensi menjadi gesekan, akan terus kami  tekan.
Sementara hal yang baik seperti pemberian siraman rohani kepada para warga binaan, akan kami pertahankan. Bahkan, kalau perlu ditingkatkan,” tutur  lelaki kelahiran Solo, 5 Septem-  ber 1979 tersebut. (http://www.kabarbromoterkini.com/)
Share:

Friday, January 13, 2017

Wahyu Indarto Pimpin Rutan Kelas IIB Bangil

Pucuk Kepemimpinan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Bangil, resmi berganti.
Tri Wahyudi menyerahkan posisinya kepada Wahyu Indarto dalam serah terima jabatan dan pisah sambut Karutan II B Bangil, Senin (10/01) lalu.
Tri sendiri telah menjabat selama 4 tahun 8 hari, dan kini mendapat tugas baru sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) II B Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sedangkan Wahyu sendiri sebelumnya adalah Kepala Satuan Pengamanan di Lapas Narkotika Kelas II A Jakarta.
Ditemui di sela-sela kesibukannya, Selasa (18/01), Wahyu mengaku bahwa jabatan baru yang diberikan kepadanya adalah amanah yang harus dapat dijaga dengan sebaik-baiknya.
“Dimanapun ditempatkan dan kapanpun, kami harus siap. Yang namanya amanah adalah tanggung jawab, sehingga mau tidak mau akan saya laksanakan dengan sebaik-baiknya serta berusaha seprofesional mungkin,” katanya.
Menurut Wahyu, Rutan II Bangil termasuk rutan yang sudah maju, lantaran sudah memperhatikan beberapa aspek, diantaranya kebersihan sel tahanan, hingga bagaimana upaya yang dilakukan pihak Rutan sendiri agar seluruh penghuninya tidak tertekan, atau bahkan stress saat menjalani hukuman.
“Saya baru lihat di Rutan Bangil ini bahwa ada pembinaan kerohanian yang secara rutin diberikan oleh Ustadz atau ustadzah kepada seluruh penghuni, sehingga ada pencerahan batin. Dan itu tidak saya temui di tempat lain, betul-betul saya kagumi,” imbuhnya.
Tak hanya masalah kerohanian, Rutan Bangil menurut Wahyu intens melakukan pengecekan kesehatan terhadap para tahanan, dan itu dilakukan seminggu sekali.
“Apa yang sudah baik di Rutan Bangil ini akan saya pertahankan. Apalagi ini masalah kesehatan, sangat saya perhatikan dan akan kami pertahankan,” terang pria asli Solo itu.
Sementara itu, saat ditanya seputar jumlah tahanan yang melebihi kapasitas rutan itu sendiri, Wahyu menegaskan bahwa dirinya akan terus berusaha untuk bisa memindahkan para tahanan yang baru saja inkrah alias telah diputus hakim di Pengadilan.
“Kapasitas hanya 200 orang, tapi jumlah penghuninya sudah 422 orang, jadi over capacity. Sudah kami usulkan pemindahan 14 tahanan ke Lapas Kelas I Surabaya melalui Kanwil, dan itu sudah kami lakukan,” urainya. (http://www.pasuruankab.go.id/)
Share:
Copyright © Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Bangil | Powered by Namecheap Design by Aditya Pradana | Website Theme by Blogger