Selamat datang di website resmi Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Bangil

Saturday, April 7, 2018

Wajah Sangar dengan Tubuh Banyak Tato, Warga Binaan Rutan Bangil Trampil Bikin Tempe

Pasuruan (wartabromo.com) – Wajah sangar dan bertato. Itulah yang tampak saat masuk ke Rumah Tahanan (Rutan) II-B Bangil, Kabupaten Pasuruan. Eits..tunggu dulu, ternyata meski demikian, sebagian dari mereka mampu berkarya, trampil membuat produk favorit, tempe.
Siang itu, setidaknya lima warga binaan Rutan ini, begitu cekatan menata tumpukan tempe, tak kalah dengan perajin tempe pada umumnya.
Coba mendekat. Wih, di depan tempe yang sudah terbungkus plastik itu, seorang warga binaan, sempat membikin ciut nyali. Betapa tidak, wajah kaku sekilas tergambar, sedang sebagian tubuhnya terlihat tato menggurat.
Tapi tak perlu khawatir, pria bertato yang akrab disebut Ambon itu, malah melempar senyum manisnya. Ahay, kontan saja wartabromo.com lumer.
Dengan kekuatan Ambon and the gank, rata-rata tempe yang dibuat bisa mencapai 15-25 kg, setiap harinya. Ini namanya sudah mirip home industry tempe, karena mereka saling berbagi tugas dan peran.
“Membuat tempe lumayan susah. Tapi sekarang sudah ahli,” kata Ambon berkelakar.
Kepala Rutan II-B Bangil, Wahyu Indarto mengatakan, maksud diproduksinya tempe, untuk memenuhi kebutuhan lauk bagi 468 warga binaan yang ada di Rutan Bangil.
Lauk favorit masyarakat Indonesia ini coba dikenalkan hingga berproduksi mulai akhir tahun 2017 lalu. Pihak Rutan memberi mandat kepada Ambon dkk untuk mengurusnya. Terbukti, semangat kelimanya telah membuat ratusan warga binaan menikmati makanan kaya protein ini. Belakangan, karena membuat tempe sendiri, pihak Rutan dapat menghemat biaya pembelian tempe hingga 50%.
Untuk mendapatkan kedelai, bahan baku utama tempe, terbilang mudah, karena lokasi Rutan berada di areal Pasar Bangil.
“Kebetulan ada salah satu warga binaan yang paham betul tentang produksi tempe, sehingga langsung dipraktekkan,” tutur Wahyu mengungkap awal diproduksinya tempe made in Rutan ini, Sabtu (7/4/2018).
Kepala Rutan pun memiliki angan-angan, tempe-tempe tersebut juga akan bisa dijual ke Lapas Kota Pasuruan atau toko pracangan (sebutan untuk toko yang menjual ikan, sayuran dan buah di pasar).
Tempe hasil warga binaan Rutan Bangil diberi label “Numani” atau dalam Bahasa Indonesia berarti ketagihan.
“Nama tersebut sesuai dengan doa dan harapan dari seluruh penghuni Rutan Bangil supaya tempe buatan mereka laku keras di pasaran,” imbuhnya.
Dijelaskan sebelumnya, langkah membuat tempe, pertama adalah mencuci hingga bersih seluruh kedelai selama 10-15 menit. Setelah itu dilakukan perebusan selama 45 menit. Tiris dan digiling supaya kulit ari kedelai lepas, kemudian direndam dengan air dingin selama 10 menit. Lalu, bahan kedelai dicuci hingga bersih dan dimasukkan ke perebusan yang kedua dan dibiarkan selama 30 menit. Setelah didinginkan, campur kedelai dengan ragi. Perbandingan 1 kg kedelai dengan 1 sendok teh.
BoloWarmo, cukup mau ngicipin saja atau pilih produksi tempe, seperti Ambon and the gank? (mil/ono)
Sumber : Warta Bromo
Share:

0 comments:

Post a Comment

Copyright © Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Bangil | Powered by Namecheap Design by Aditya Pradana | Website Theme by Blogger